Berita

 Network

 Partner

Bupati Kabupaten Siak, Alfedri saat menjadi narasumber dalam Podcast “Kepala daerah Penggagas Insentif Fiskal Berbasis Ekologi” seri ke-1 Transfer Anggaran Kabupaten berbasis Ekologi (TAKE) Kabupaten Siak, Selasa (21/9).

Bupati Siak Paparkan Strategi Wujudkan Kabupaten Hijau

Berita Baru, Jakarta – Bupati Kabupaten Siak, Alfedri menyebut bahwa ada tiga (3) pendekatan yang ia gunakan untuk menjadikan Siak sebagai salah satu kabupaten hijau di Indonesia.

Hal ini ia sampaikan dalam Podcast “Kepala daerah Penggagas Insentif Fiskal Berbasis Ekologi”  seri ke-1 Transfer Anggaran Kabupaten berbasis Ekologi (TAKE) Kabupaten Siak, Selasa (21/9).

Tiga (3) pendekatan di atas, kata Alfedri, mencakup pendekatan kebijakan, pendekatan lanskap, dan kebijakan ekonomi.

Pertama merujuk pada bagaimana melalui skema ini semua kebijakan di Kabupaten Siak akan diarahkan untuk mendukung Siak hijau.

Kedua menunjuk pada adanya pengelolaan yang baik untuk mendorong inisiatif pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) berkelanjutan dan ramah terhadap gambut.

Berita Terkait :  Bantuan Pemda di Papua Sebaiknya Menggunakan Bahan Pokok Lokal

“Poin kedua ini penting karena 57% wilayah di Siak adalah lahan gambut dengan 21% darinya berupa gambut dalam, sehingga hal tersebut perlu dikelola,” ungkapnya dalam Podcast yang ditemani oleh Sarah Monica sebagai host ini.

Adapun pendekatan terakhir lebih pada bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi aktif dan mendukung Siak hijau.

“Pendekatan ekonomi dilakukan melalui adanya ruang partisipasi aktif masyarakat agar pada satu sisi bisa memperoleh pemanfaatan ekonomi dan pada sisi lainnya tetap menjaga lingkungan hidup,” jelas Alfedri.

Aspek bidikan

Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh The Asia Foundation (TAF) bekerja sama dengan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Riau ini, Alfedri juga memaparkan tentang tiga (3) aspek yang dibidik sepanjang Siak menjadi Kabupaten Hijau.

Berita Terkait :  Kakao Adalah Nafas Ekonomi dan Pendidikan Masyarakat Lembah Grime Jayapura

Aspek pertama, kata Alfedri, adalah pengolahan SDA. Semua pengolahan SDA di Siak diarahkan hanya untuk kepentingan masyarakat dengan prinsip keberlanjutan.

“Prinsipnya keberlanjutan dan kelestarian lingkungan hidup,” ujarnya dalam Podcast yang tidak lain merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Festival Inovasi Ecological Fiscal Transfer (EFT) ini.

Hal kedua yang dibidik adalah aspek kepentingan masyarakat. Kepentingan di sini lebih pada peningkatan ekonomi masyarakat pada satu sisi dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Siak pada sisi lainnya.

Adapun terakhir adalah aspek pola pemanfaatan SDA yang didekati melalui tiga (3) strategi, yakni kegiatan konservasi, hilirisasi, dan intensifikasi.

“Tiga ini berporos pada konsep ekonomi lestari dan investasi lestari yang tentunya juga melibatkan kolaborasi dari berbagai pihak seperti komunitas, media, pemangku kebijakan, UMKM, dan sebagainya,” papar Alfedri.

Berita Terkait :  Terapkan TAKE, Kubu Raya Siap Menjaga Kawasan Hutan

“Dengan fokus tadi, untuk menunjang adanya pemanfaatan bahan baku di area ekologis demi tercapainya peningkatan ekonomi masyarakat dan pendapatan daerah,” imbuhnya dalam acara daring yang ditayangkan langsung via Kanal Youtube Beritabaruco ini.

Sebagai pembanding, Podcast ini dihadiri pula oleh narasumber lain, yakni Aksiza Utami Putri dari FITRA Riau dan didukung oleh Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO), Indonesia Budger Center, The Reform Initiatives (TRI), Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), dan Beritabaru.co.