Banser Way Kanan Pengalaman Mengawal Syekh Ali Jaber

Masruri Zuhdi, Kasatkoryon Banser Negeri Besar Way Kanan memimpin pengawalan Syekh Ali Jaber
Masruri Zuhdi, Kasatkoryon Banser Negeri Besar Way Kanan memimpin pengawalan Syekh Ali Jaber

Lampung.beritabaru.co. Way Kanan – Ali Saleh Mohammed Ali Jaber yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber, lahir di Madinah, 3 Februari 1976; umur 44 tahun) adalah Pendakwah dan Ulama berkewarganegaraan Indonesia. Ia juga menjadi juri pada Hafiz Indonesia dan menjadi Da’i dalam berbagai kajian di berbagai stasiun televisi nasional maupun berkeliling ke pelosok negeri.

Beberapa waktu lalu, ulama kharismatik ini ditusuk orang ketika berdakwah di Lampung (baca juga). Kasusnya saat ini sedang ditangani oleh pihak yang berwajib, Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandarlampung menunjuk tujuh jaksa dalam perkara penusukan pendakwah Syekh Ali Jaber yang dilakukan tersangka. Pihaknya sudah menerima SPDP dari penyidik Polresta Bandarlampung dengan nomor SPDP/228/X/2020/Reskrim.

“Sudah kami siapkan tujuh orang jaksa untuk menangani perkara penusukan Syekh Ali Jaber. Mengenai siapa saja jaksa yang ditunjuk, belum bisa saya sampaikan,” ujar Kepala kejaksaan negeri (Kajari) Bandarlampung, Abdullah Noer Deny, Sabtu (19/9).

Rekonstruksi kasus penusukan Syekh Ali Jaber membuka fakta bahwa tersangka AA (24) memiliki niat untuk membunuh ulama dan pendakwah tersebut. Polisi telah menetapkan AA sebagai tersangka usai melakukan pemeriksaan.

“Dari pemeriksaan sudah 24 jam. Statusnya sudah kita tetapkan jadi tersangka,” kata Kapolresta Bandar Lampung Kombes Yan Budi.

Pelaku penusukan Syekh Ali Jaber itu bisa dijerat dengan dua pasal. Dua pasal tersebut terkait penganiayaan berat dan membawa senjata tajam tanpa hak.

Berita Terkait :  Harapan Kader IPPNU Way Kanan Ikuti Kelas Tata Rias

“Sesuai Pasal 351 ayat 2 (KUHP) dengan ancaman pidana penjara 5 tahun dan Pasal 2 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman pidana penjara 10 tahun,” Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono di Gedung Bareskrim, Jakarta Selatan, Senin (14/9/2020).

Setelah peristiwa penusukan ini, pasukan inti Gerakan Pemuda Ansor yaitu Banser (Barisan Ansor Serbaguna) NU yang merupakan garda terdepan penjaga ulama dan NKRI merespon cepat dengan mengawal dakwah Syekh Ali Jaber ke beberapa daerah berikutnya.

Terkait pengawalan Syekh Ali Jaber, Masruri Zuhdi selaku Kasatkoryon Banser Negeri Besar Kabupaten Way Kanan menceritakan pengalamannya dalam mengawal Syekh Ali Jaber bersama pasukannya. Ulama kharismatik ini datang ke Way Kanan untuk berdakwah atas undangan salah satu tokoh aparat kampung Tegal Mukti Kecamatan Negeri Besar dalam acara Walimatul Khitan salah satu putranya. Meskipun sempat terlambat dikarenakan beberapa kendala. Tapi Kasatkoryon Banser Negeri Besar ini banyak memetik pelajaran berharga ketika mengawal ulama.

“Selama ini kami belum pernah mengawal ulama yang begitu kharismatik di acara hajat pribadi seperti itu, sehingga kami banyak memetik pelajaran dari acara tersebut bersama sahabat-sahabat” Cerita awal Masruri kepada kami.

Berita Terkait :  Mutmainah Korona, Mendorong Kebijakan Anggaran Responsif Gender dari Dalam Parlemen

Banyak kendala diluar prediksi terjadi ketika itu, menjadi bahan evaluasi oleh Ketua PAC GP. Ansor Negeri Besar, Filial Sa’adillah.

“Kami sudah intruksikan pengawalan sesuai protokoler Banser dalam menjaga ulama, meskipun kami sudah menciptakan skema dan gladi pengawalan tapi tentu tetap saja kendala tidak terduga masih terjadi, kendala ini menjadi pelajaran dan pengalaman berharga bagi kami semua” Ujar Filial Sa’adillah.

“Kendala yang pertama dalam hajat pribadi seperti ini mungkin lebih terkait dengan kondisi di lapangan dan kepanitiaan, dimana terkadang kami miskomunikasi dan kurang koordinasi dengan panitia dalam fungsi kami yang seharusnya menjadi Ring Satu Pengawalan Ulama. Artinya disini kami langsung yang harus menjadi barisan terdekat mengawal ulama tanpa ada orang lain selain pihak berwajib yang harus mengawal,” Kata Masruri.

“Selanjutnya kami juga terkendala dengan postur ulama keturunan arab yang memang memiliki fisik cukup besar dan tinggi, kami bukan mengeluh dalam hal ini tapi antusiasme hadirin yang terkadang diluar kendali dan menghalalkan berbagai cara untuk dapat menyentuh atau bersalaman. Bahkan ketika itu, imamah atau penutup kepala beliau sampai hampir lepas ditarik para hadirin yang bermaksud ngalap barokah kepada beliau. Karena beliau tinggi sehingga ketika kami fokus menjaga beliau jarak dekat ternyata masih ada saja yang memaksa menyerobot melalui bagian atas tubuh kami untuk menyentuh beliau.” Tambah Masruri Zuhdi.

Berita Terkait :  KPU Way Kanan lakukan kegiatan "Sosialisasi Pemilih Pemula"

Filial Sa’adillah selaku Ketua PAC GP. Ansor Negeri mengatakan sangat harus Ulama Karismatik sekelas beliau dikawal secara ketat oleh sahabat Banser.

“Saya rasa setelah kejadian ini, seluruh pihak harus belajar meningkatkan koordinasi dalam pengawalan ulama. Termasuk dari sisi panitia penyelenggara, yang terkadang masih enggan berkoordinasi dengan sahabat Banser, padahal kami selalu sukarela mengawal Ulama yang sudah menjadi Nawa Prasetya Barisan Ansor Serbaguna. Setelah ini tidak ada alasan kita semua meremehkan pengawalan Ulama selama berdakwah. Kami katakan SIAP dalam Satu Komado Satu Barisan jika diminta.” Ujar Filial Sa’adillah kepada kami.

“Terakhir, kami berharap kasus ini segera diusut hingga tuntas secepatnya sesuai prosesnya agar tak ada opini-opini yang menyesatkan atau mengarah ke fitnah dan sangat percaya pihak berwajib mampu menyusut kasus ini hingga tuntas dan kami siap terus bersinergi dengan Polisi dan TNI dalam mengawal Ulama ketika berdakwah.” Tutup Masruri Zuhdi kepada kami.

Kejadian ini tentu kejadian memalukan bagi bangsa Indonesia bahkan hingga masuk ke TV Nasional Arab Saudi. Semoga kasus ini dapat diusut hingga tuntas dan tidak terulang kembali, Amin. (FS)

Facebook Comments Box
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini