Berita

 Network

 Partner

Nelayan Libur Melaut, Harga Ikan di Lampung Timur Naik

Berita Baru, Lampung Timur – Basis perikanan di Kabupaten Lampung Timur tak kalah dengan pertanian dan perkebunan. Salah satunya di Desa Muara Gading Mas Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur.

Masyarakat di wilayah pesisir laut timur pulau Sumatera itu banyak yang menjadi nelayan. Bahkan jumlahnya lebih dari ribuan, hal itu dibuktikan dengan adanya ratusan kapal berukuran sedang milik warga setempat yang berjejer rapi di sungai koala, sungai yang berada disamping pantai sepanjang Desa Gading Mas.

Sore hari, aktivitas para nelayan di Desa Muara Gading Mas mulai kembali ke daratan setelah mereka berangkat melaut sejak pagi. Para nelayan di musim angin timur saat ini lebih banyak mendapatkan ikan cumi, gurita, sotong, serta beberapa jenis ikan laut lainnya. Namun jumlahnya memang berkurang tak seperti angin barat.

Berita Terkait :  Kombi Lampung Luncurkan Kurir Makan Gratis

Di musim timuran atau angin dari timur seperti saat ini, harga jual segala jenis ikan relatif tinggi. Sebab, ombak besar disertai angin bertiup kencang di tengah laut, sehingga para nelayan tidak semua berani melaut. Selain itu, hasil tangkapan juga tidak seperti saat angin barat.

“Kalau musim seperti sekarang harga ikannya mahal mas, soalnya gak semua nelayan berani melaut karena angin kencang dan ombak besar, disamping itu pendapatan ikan juga berkurang,” kata Mang Darman, salah satu nelayan sekitar.

Darman menceritakan, kenaikan harga perkilo ikan hasil tangkapan di musim timuran bisa mencapai 2 kali lipat dari harga musim barat, “Seperti harga cumi ukuran sedang sekarang perkilo 70 ribu, biasanya kalau lagi musim paling-paling hanya 30 sampai 40 ribu,” terangnya.

Berita Terkait :  Pilkada Sudah Semestinya Menyatukan Pemilih

Kenaikan harga, lanjut Darman, juga dipengaruhi oleh cuaca buruk di tengah laut, sehingga tangkapan ikan berkurang karena nelayan banyak yang libur melaut. Kondisi itu terjadi sejak sebelum hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriyah atau tepatnya pada awal bulan Mei 2021.

“Tangkapan ikan berkurang akibat tidak semua nelayan berani melaut sejak sebelum lebaran sampai sekarang, itu salah satu faktor penyebab naiknya harga,” ungkapnya.

Sementara data BMKG terbaru pada Selasa (25/5), merilis peringatan dini potensi cuaca ekstreame di sejumlah wilayah di Indonesia, hal itu disebabkan adanya Sirkulasi Siklonik terpantau di Papua Barat dan di perairan Timur Filipina.

Akibatnya, beberapa wilayah berpotensi hujan lebat disertai angin kencang termasuk di wilayah Sumatera Utara hingga Aceh, mulai dari Lampung, Bengkulu hingga Sumatera Barat, di NTT bagian Timur.

Berita Terkait :  Kampung gedung rejo melakukan Memorandum Of Understanding (MoU) dengan kantor hukum Beni Idris.,SH.