Berita

 Network

 Partner

Novel Sejarah ‘Perempuan Yang Mendahului Zaman’

Meneladani Sosok Rahmah ‘Perempuan yang Mendahului Zaman’

Oleh: Disisi Saidi Fatah

            Rahmah El Yunusiyyah merupakan wanita berdarah Minangkabau yang lahir dari rahim Uminya; bernama Rafiah dan Buyanya Syekh Muhammad Yunus al-Qadi, seorang ulama di Padang Panjang, Minangkabau, Sumatera Barat. Ia lahir pada Sabtu, 29 Desember 1900.

Rahmah dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan dididik dengan suasana Islami serta adat istiadat Minangkabau. Namun sayang, nasib malang menimpanya, saat usia enam tahun ia ditinggal buyanya, ulama hebat itu pergi untuk selama-lamanya menghadap sang ilahi.

Masa kecilnya ia habiskan dengan belajar mengaji di surau dan belajar menjahit, menyulam, serta berkegiatan di dapur bersama kakak-kakaknya di rumah. Sejak pandai mengaji dan membaca, ia tenggelam dalam buku-buku.

Hingga usai remaja, Rahmah terus belajar, buku-buku kakaknya ia lahap habis, begitu pun dengan tulisan-tulisan yang dimuat di berbagai media kala itu. Seiring berjalannya waktu, pada Oktober 1915, Rahmah mulai menempuh pendidikan disekolah baru yang didirikan oleh kakaknya; Zainuddin. Bersama sejumlah perempuan lain, mereka belajar fikih, tasawuf, bahasa Arab, ilmu falak, sejarah Islam, tauhid, dan tafsir. Namun itu tak cukup, sebab murid perempuan itu sungkan bertanya, guru tak menjelaskan pula, tentang hal-hal keislaman dan fikih keperempuanan, serta tentang yang menyangkut pelajaran lebih dalam lagi.

Hal inilah yang membuat Rahmah dan kawannya terus berdiskusi, membahas hak hidup perempuan. Sebab, melihat contoh yang sudah, hampir semua wanita Minangkabau tak tahu apa-apa. Memang ada banyak wanita pintar, terutama di Bukittinggi yang bahkan membuat surat kabar, tapi menurut Rahmah itu tidaklah cukup. Rahmah menginginkan kaumnya menikmati pendidikan perguruan Islam, sehingga sendi-sendi agamanya kuat dan kokoh.

Tahun demi tahun mereka terus belajar di Diniyyah School, hingga tiba waktunya Rahmah bicara pada kakaknya. Namun, Rahmah keburu dinikahkan pada 1916 dengan seorang ulama terkemuka dari Nagari Sumpur, tetepian Singkrak, bernama Buya Bahauddin Lathif. Ia menikah pada usia remaja, karena satu kakinya terpaut pada tradisi, tapi ia lebih beruntung. Wanita Minangkabau lainnya tak bisa berkutik, harus menerima jodohnya tanpa bisa bersuara. Wanita-wanita malaikat itu, di zaman ini adalah calon ibu, yang saat kecil dan sedikit masa remaja diajari ibunya ke dapur membuat apa saja, juga rendang nan terkenal itu. Setelah itu mereka akan dipingit.

Usai perhelatan nikah, Rahmah kembali ke Diniyyah School. Ia kembali untuk belajar, dalam beberapa kesempatan ia menjadi ‘guru’ bagi kaumnya dalam hal berumahtangga. Sayang, tak seberapa lama jalan bersimpang dua, ia bercerai karena suaminya lebih cenderung pada pergerakan, sedangkan ia sendiri pada pendidikan. Keduanya sepakat menyudahi rumah tangga yang baru itu,  tanpa anak.

Mendahului Zaman

            Rahmah bersimpuh dengan takzim, dadanya serasa meledak saking gembira. Keinginannya yang sudah lama ia pendam, kini telah mendapatkan izin. Ia direstui untuk mendirikan sekolah khusus untuk muslimah, sebab memang belum ada. Jika terealisasi, maka inilah sekolah perempuan muslimah pertama di Hindia Belanda.

Ia sudah muak dengan kuasa laki-laki atas perempuan, kuasa pejabat atas kaumnya dan suara-suara serta tindakan yang merendahkan dan melecehkan kaumnya. Tak ada yang mau menolong, yang ada hanya memupuk hegemoni kaum pria. Bicara terlalu panjang tak boleh. Ia setuju-setuju saja dengan sumbang duo baleh, buatan adat Minangkabau; yaitu imbauan moral untuk perempuan. Satu yang benar-benar tak ia sukai: Sumbang Karajo, yaitu perempuan hendaklah bekerja untuk yang ringan saja. Pekerjaan berat dan kasar diserahkan pada kaum lelaki.

Baginya kerja berat dan kasar tidak masalah diserahkan kepada laki-laki, namun ia tidak mengerti pekerjaan ringan yang dimaksud. Siapa yang menyebut ke dapur pekerjaan ringan? Coba benarlah bapak-bapak itu agak tiga hari, pasti angkat bendera putih. Coba pula mencuci kain, apalagi pakaian bini. Sumbang yang satu itu baginya seakan mengunci pintu dan wanita wajib di rumah saja. Sekolah bukan urusan wanita. Padahal sumbang doubaleh (12) itu sebenarnya berlaku juga untuk laki-laki, tapi karena dibuat laki-laki, maka diberi judul untuk perempuan Minangkabau. Menurut Rahmah dunia tidak adil sejak dalam pikiran. Ia tidak suka.

Kamis, 1 November 1923, Rahmah resmi mendirikan sekolah yang diberi nama Diniyyah Puteri Padang Panjang, pada usianya yang baru menginjak 23 tahun.  Kabar tentangnya mendirikan sekolah itu meluas hingga ke penjuru tanah Minang, bahkan sampai pula ke telinga para penguasa Belanda.

Pada hari pertama belajar, murid mulai berdatangan, tiap hari terus dan terus. Ada yang masuk, lalu pergi dan tak kembali lagi, namun besoknya datang yang baru lagi. Hingga pada suatu hari, jumlah murid yang sudah kuat hatinya untuk belajar tercatat hampir 70 orang.

Kisahnya membuka sekolah kemudian menjadi perbincangan. Ia disebut ‘yang tidak-tidak saja,’ Rahmah ditantang dengan diam-diam dan dengan frontal. Ia dicibir, digunjingkan. Ia digugat kalangan adat, karena sudah lancang membangun sekolah, untuk perempuan pula. Penolakan pada sekolah Rahmah itu bukan sekadar cerita, namun pasti. Pemuka adat menolak secara tegas, sebab menurut mereka sekolah itu benar-benar tak ada gunanya. Apa yang dilakukan Rahmah, menyeret perempuan ke luar, padahal mereka akan menjadi bini orang. Perdebatan di kalangan pemuka adat awalnya memang demikian, namun setelah itu terbuka ruang diskusi sesama mereka. Terbentuklah dua kubu, yang menolak dan menerima.

Rahmah terus berjalan. Ia jadikan hal itu sebagai pelecut. Diniyyah Puteri semakin mekar di Padang Panjang, jadi pembicaraan setiap orang. Namun pembicaraan yang mencibir itu tak mempan, kemudian malah tumbuh rasa hormat. Rahmah kini menjadi tokoh yang berani mendirikan sekolah ganjil. Idenya sangat kuat, dari segi keilmuan waktu itu susah dibantah. Apalagi tahun pertama, sekolah itu sudah punya murid puluhan orang.

Bagi Rahmah, Diniyyah adalah anak sendiri, jalan jihadnya ada di situ, waktunya habis untuk perguruan dan ia mewakafkan diri seutuhnya untuk sekolah yang diatap dengan cita-citanya. Jalan jihad itulah yang membuat ia bagai ayam betina yang berkokok di tengah elang-elang jahat yang meliuk di awang-awang. Ia bertekad Diniyyah Puteri akan selalu mengikhtiarkan penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan yang selama ini susah mendapatkan penerangan agama dari laki-laki, lantaran perempuan segan bertanya kepadanya.

Perjalanan dan perjuangan Rahmah tidak sampai di situ, ketika ia baru memulai jalannya, ia diuji oleh Allah, sang kakak Zainuddin Labay pendiri Diniyyah School berpulang. Kematian sang kakak bagi Rahmah bukan sekadar duka keluarga, tapi tali gantungan cita-cita yang telah putus. Bagi sosok Zainuddin bukan saja sebagai kakak, namun guru, sosok sang ayah ada padanya. Ia tak bisa berpikir, sebab selama ini Zainuddin lah yang selalu membantunya.

Ia terpukul karena empat sebab. Pertama, ia sayang sekali pada kakaknya, kedua, almarhum sebagai ganti ayah, tempat mengadu, dan ketiga, karena uminya juga terpukul. Keempat, karena ia belum kokok benar ‘berjalan’ menjunjung beban seberat  Diniyyah Putri. Rahmah masih sangat mengharapkan bantuan kakaknya.

Waktu berlalu, demi menyelamatkan Diniyyah Puteri, Rahmah bergerilya ke berbagai daerah di Sumatera Barat, juga daerah tetangga pasca kepergian Zainuddin. Ia pergi dengan beberapa orang ke Aceh, Sumatera Timur, Siak di Riau dan Jambi. Ia bagai burung berkelana, menikam angin dalam hujan.

Usai berkelana ia kembali ke Diniyah Puteri membawa hasil. Kampus Diniyyah pun mulai dibangun dengan hati oleh tangannya sendiri, oleh tangan kawan-kawannya, dan murid-muridnya. Sesuatu yang dibuat dengan hati terasa samapi ke hati dan akan menyentuh hati orang lain. Angin pun berkisar, tak lagi bertiup buruk pada Rahmah. Kini seluruh rakyat Padang Panjang menyebut Diniyyah sebagai “Sikolah Etek Amah.”

Aral Terjal Diniyyah Puteri dan Gelar Syekhah

            Senin, 28 Juni 1926, taat kala pagi berjabat tangan dengan siang nan indah, mengantarkan warga beraktivitas. Pukul 10 lewat sedikit, sebuah tikaman amat hebat menusuk ganas kota kecil itu: Gampo rayo Padang Panjang. Gempa itu berkekuatan 6,5 dan 6,7 SR, selama seminggu kemudian terjadi gempa susulan yang sambung-menyambung. Kota itu seperti berada di atas ayakan tepung.

Kejadian itu membuat Rahmah tidak bisa melukiskan, betapa hatinya bagai ditikam belati melihat gedung dan asrama Diniyyah Puteri ambruk. Namun karena fondasi agamanya kuat, ia yakin segalanya ada hikmah. Usai kejadian itu satu persatu santrinya dipulangkan menuju keharibaan orang tua mereka.

Hari berlalu, Rahmah tidak tinggal diam, baginya gempa itu adalah ujian dari Allah. Ia bersama para pendidik kembali mengabari siswanya untuk memulai kembali pembelajaran. Mereka memulai langkah kedua, membangun masa depan lagi. Pondok Diniyyah kembali dibangun dari bambu beratap daun kelapa dan rumbia, lantainya masih tanah.

Rahmah pun tak tinggal diam, ia kembali berdakwah dari dusun ke desa, dari surau ke masjid, mencari uang ke tanah Semenanjung. Setelah tiga tahun lebih ia berkelana ke Pekan Baru Riau, Aceh, Sumatera Timur, dan beberapa kota lainnya. Kini ia pun kembali dengan membawa hasil yang baik, dari situ lahirlah Diniyyah Puteri dengan sebuah bangunan bertingkat dua dan empat buah ruangan. Bagian atas untuk asrama dan bawah untuk ruang kelas.

Sekitar 7 tahun kemudian, ia kembali diuji, Sekolahnya disita oleh pengadilan Belanda sebab sisa hutang biaya bangunan sekolah belum lunas. Padahal sebelumhya ia telah mengumpulkan dana 7.000 gulden, namun uang itu tidak cukup, oleh karenanya ia meminjam uang kepada seorang haji. Kondisi buruk itu ia makan sendiri. Bulan demi bulan ia kumpulkan uang dan akhirnya semuanya terlunasi, bahkan kemudian ia membuka jenjang pendidikan baru di Diniyyah.

Waktu terus bergulir. Pada tahun 1955 Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir,  Dr. Syekh Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyyah Puteri. Dalam pidatonya ia sangat terkagum dengan pola sekolah yang didirikan oleh Rahmah. Syekh itu menyatakan akan memungut pola Diniyyah Puteri untuk diterapkan di universitanya, sebab di sana sama sekali belum ada. Rahmah pun turut diundang ke Al-Azhar.

Setahun kemudian, Rahmah bertolak ke Mesir. Kini ia berada di tengah lautan ilmu di Universitas Al-Azhar. Para guru besar melalui rapat lengkap sebelumnya, sudah memutuskan agar memberi gelar ‘SYEKHAH’ kepada Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah. Ini gelar guru besar pertama untuk perempuan di dunia, yang diberikan universitas dekat sungai bersejarah itu. Apa yang dikerjakan Rahmah di kampung dinilai sesuatu yang luar biasa, apalagi kala itu negerinya tengah dijajah. Bahkan perguruannya kemudia berkembang dengan baik.

Tahun 1962, Universitas Al-Azhar resmi memiliki fakultas untuk perempuan; Kulliyatul Lil Banat, yang merupakan adopsi pola Diniyyah Puteri.

Kisah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah yang ditulis oleh Pak Khairul Jasmi dalam sebuah novel sejarah dengan judul ‘Perempuan Yang Mendahuli Zaman,’ merupakan bacaan yang sangat menyentuh hati, penuh pelajaran dan hikmah yang baik.

Kisah yang ditulis secara apik dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami ini, sangat layak mendapatkan apresiasi. Perjuangan seorang Syekhah Rahmah untuk kaumnya di tengah penjajahan negeri, sudah barang tentu menjadi bacaan wajib tidak hanya bagi perempuan-perempuan di segala penjuru, namun juga kaum laki-laki. Bahkan novel ini sangat layak untuk diangkat ke film layar lebar, agar semakin banyak yang mengetahui sejarah dan sepak terjang seorang Syekhah Rahmah.

Rangkayo Syekhah Rahmah El Yunusiyyah adalah ayam betina yang berkokok. Sejak belia di zaman penjajahan ia mendirikan sekolah muslimah pertama di Indonesia. Ia adalah komandan TKR, pasukan yang menghadang belanda. Punya pasukan intel dan melawan Jepang agar menutup semua rumah bordir di Minangkabau, menjemput perempuan-perempuan Minang yang diculik ke markas Jepang.

Ia satu-satunya wanita yang diberi gelar Syekhah oleh Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Universitas ini meniru Diniyyah Puteri. Rahmah mendahului Al-Azhar, mendahului zaman. Ia paling dulu mengibarkan sang merah putih pada 1945 di Ranah Minang bahkan mungkin di Sumatera. Kini warisannya makin jaya, modern dan disukai banyak perguruan tinggi ternama di dunia.

Identitas Buku:

Judul              : Perempuan Yang Mendahului Zaman

Genre             : Fiksi Sejarah

Penerbit          : Republika

Tahun Terbit : Cetakan Pertama November 2020

ISBN               : 978-623-279-089-6

Biodata Peresensi:

***Disisi Saidi Fatah merupakan aktivis muda berdarah Lampung. Aktif di kegiatan sosial kemanusiaan, Banser, IPNU, PMII, dan GMNU. Jurnalis NU Online dan Berita Baru Lampung. Ia bisa dihubungi melalui instagram @itsme1disisi/email; [email protected]